Fokus Isu Festival Gagasan Rakyat Trenggalek Jilid 2

Masyarakat Kabupaten Trenggalek mayoritas memiliki pekerjaan di sektor pertanian. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2017 masyarakat Trenggalek yang berumur diatas 15 tahun bekerja pada sektor pertanian sebanyak 47,15%. Penggunaan lahan yang ada di Trenggalek pun mayoritas digunakan sebagai lahan pertanian seperti tertera pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kab. Trenggalek, dengan rincian sebagai berikut:


Sektor pertanian juga menyumbangkan PDRB terbesar di Kabupaten Trenggalek meskipun kecenderungannya menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 2018 berdasarkan data sementara yang dirilis BPS dalam dokumen Kabupaten Trenggalek Dalam Angka, PDRB atas harga konstan sektor pertanian sebesar 4.922.404,61.

Atas dasar tersebut sektor pertanian menjadi salah satu misi pembangunan Kabupaten Trenggalek pada Misi kedua yang berbunyi “Meningkatkan pembangunan sektor pertanian serta memberikan perlindungan terhadap masyarakat untuk mewujudkan tata niaga yang adil dan menyejahterakan”
Pemerintah Trenggalek sudah memiliki banyak program untuk mewujudkan pembangunan pada sektor pertanian sebagai salah satu jalan menuju masyarakat Trenggalek yang adil dan sejahtera.

Kendati demikian masih ada banyak persoalan yang dihadapi Kabupaten Trenggalek bukan hanya permasalahan sarana dan prasarana tapi juga masalah sumber daya manusia. Meskipun sektor pertanian masih menjadi penyumbang PDRB terbesar dan menjadi lapangan pekerjaan terbanyak di Kabupaten Trenggalek. Sektor pertanian bukanlah pilihan pekerjaan. Petani di Kabupaten Trenggalek mayoritas merupakan petani subsisten. Program Agropolitan dan Minapolitan yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Trenggalek belum mampu merubah petani ini menjadi pengusaha pertanian.

Terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang dipengaruhi oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan pada tahun 2018 -1,40% dari tahun sebelumnya, kontribusi terhadap PDRB kabupaten Trenggalek sebesar 17,40%. Pada tahun 2017 pertumbuhan dari sektor ini sebesar 1,20% dengan kontribusi PDRB sebesar 19,03%. Sedangkan pada tahun 2015 pertumbuhannya cukup besar yaitu sebesar 4,23% dan lapangan usaha sektor pertanian memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB Kabupaten Trenggalek yaitu sebesar 27,89%.

Disisi lain Kabupaten Trenggalek memiliki potensi yang luar biasa dalam sektor pariwisata. Pemerintah Kabupaten Trenggalek memiliki perhatian yang cukup besar terhadap sektor pariwisata. Hal ini ditunjukan dengan tema pembangunan pada tahun 2020 yaitu “Sinergitas Pembangunan Pariwisata dan Implementasi e-Government Dalam Rangka Peningkatan Daya Saing Daerah dan Pelayanan Publik.”

Tema ini menunjukan bahwa sektor pariwisata menjadi salah satu kekuatan Kabupaten Trenggalek dalam meningkatkan daya saing daerah di tingkat regional dan nasional. Pertanyaannya adalah bagaimana agar pembangunan sektor pariwisata ini mampu menggerakan ekonomi pada sektor lain, khususnya pada sektor pertanian yang menjadi salah satu tumpuan kehidupan masyarakat Kabupaten Trenggalek.

Berbicara Pariwisata tentunya akan berbicara dua hal yaitu wisata alam dan wisata budaya. Masyarakat Kabupaten Trenggalek memiliki kekuatan dalam melestarikan kebudayaannya meskipun yang nampak di permukaan dalam festival-festival adalah keseniannya yang menjadi salah satu produk dari kebudayaan. Dalam sebuah karya seni pasti menyimpan banyak filosofi berkehidupan. Seperti salah satu kesenian Turonggo Yakso yang terinspirasi dari ritual Baritan yang sudah diturunkan secara turun temurun. Ritual Baritan ini sendiri dilakukan sebagai bentuk syukur pada tuhan atas berkah yang didapatkan khususnya dalam bidang pertanian.

Selain produk kesenian sebenarnya masih banyak kebudayaan-kebudayaan lain yang masih tumbuh dimasyarakat. Seperti kebiasaan saling berkirim makanan menjelang bulan puasa. Ada pula kebiasaan saling menyumbang saat ada sanak saudara atau tetangga yang mau melaksanakan hajatan. Tentunya kebiasaan-kebiasaan ini akan menjadi budaya di masyarakat. Sebuah kebudayaan harus memiliki nilai filosofi yang tertanam sehingga tidak hanya menjadi sebuah rutinitas tapi menjadi sebuah identitas.

Ketika kebudayaan menjadi sebuah identitas maka dia akan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Kebudayaan ini akan selalu berkembang seiring dengan interaksi antar individu. Namun yang paling penting adalah menjaga identitas sehingga kebudayaan bisa menjadi nilai sosial yang terbangun atas kesadaran kolektif.

Potensi lain yang bisa dimaksimalkan dalam peningkatan ekonomi masyarakat adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Hampir semua desa di Kabupaten Trenggalek memiliki BUMDes namun belum ada BUMDes yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat desa secara signifikan. Padahal modal sosial di desa masih sangat besar didukung dengan anggaran Dana Desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pada tahun 2019 Kabupaten Trenggalek mendapatkan alokasi Dana Desa sebesar Rp. 148 700 015 000,00. Sebagian anggaran tersebut bisa dialokasikan untuk menjalankan BUMDes.

Merujuk pada Permendesa PDTT Nomor 4 Tahun 2015 tentang BUMDes, tujuan didirikannya BUMDes adalah:
  1. meningkatkan perekonomian Desa;
  2. mengoptimalkan aset Desa agar bermanfaat untuk kesejahteraan Desa;
  3. meningkatkan usaha masyarakat dalam pengelolaan potensi ekonomi Desa;
  4. mengembangkan rencana kerja sama usaha antar desa dan/atau dengan pihak ketiga;
  5. menciptakan peluang dan jaringan pasar yang mendukung kebutuhan layanan umum warga;
  6. membuka lapangan kerja;
  7. meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan pelayanan umum, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Desa; dan
  8. meningkatkan pendapatan masyarakat Desa dan Pendapatan Asli Desa.
Maka jika berbicara tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat desa seharusnya BUMDes bisa menjadi salah satu intrumen dalam meningkatkan perekonomian desa.

Berdasarkan pemaparan diatas maka Tema Festival Gagasan Rakyat Trenggalek Jilid 2 adalah “Pengembangan Ekonomi Rakyat Terintegrasi” dengan Sub Tema:
  1. Tema gagasan tentang pertanian dengan sub tema: Integrasi Hasil Pertanian, UKM dan Pariwisata.
  2. Tema gagasan tentang budaya dengan sub tema: Melestarikan budaya agraris sebagai identitas seni dan budaya agar menjadi sumber inspirasi dan etos kolektif.
  3. Tema gagasan tentang Ekonomi Desa dengan sub tema: Pengembangan BUMDes sebagai motor Penggerak ekonomi desa berdasarkan potensi desa.
  4. Tema gagasan tentang lingkungan dengan sub tema: Membangun emansipasi ekologi dalam mewujudkan kesejahteraan sosial berbasis militansi warga.